Prevalensi stunting di Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan, angkanya turun menjadi 19,8%, dari 21,5% pada tahun 2023. Capaian ini melampaui target tahunan, tetapi pekerjaan masih panjang karena pemerintah menargetkan angka yang jauh lebih rendah pada 2029 dan 2045.
Di balik angka nasional itu, ada jutaan pengukuran berat badan, panjang badan, dan tinggi badan yang dilakukan kader posyandu setiap bulan. Kualitas pengukuran inilah yang menentukan apakah seorang anak terdeteksi berisiko lebih awal atau terlambat ditangani.

Apa Itu Stunting?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai kondisi tinggi atau panjang badan anak yang terlalu rendah untuk usianya. Kondisi ini terjadi akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Stunting tidak hanya soal tubuh pendek. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki perkembangan kognitif yang kurang optimal, daya tahan tubuh lebih rendah, dan risiko penyakit tidak menular saat dewasa. Karena itu, menurunkan prevalensi stunting menjadi prioritas pembangunan sumber daya manusia.
Prevalensi Stunting Indonesia Menurut SSGI 2024
Berikut poin penting dari rilis resmi SSGI 2024 Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes:
- Prevalensi stunting nasional 19,8% pada 2024, turun dari 21,5% pada 2023.
- Target 2024 sebesar 20,1% berhasil dilampaui.
- Target berikutnya adalah 18,8% pada 2025 dan 14,2% pada 2029 sesuai RPJMN.
- Survei mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
- Enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbanyak, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Banten, menyumbang sekitar separuh kasus.
Rilis yang sama menyebutkan bahwa pemerintah telah mendistribusikan sekitar 300.000 alat antropometri ke posyandu. Langkah ini menunjukkan bahwa ketersediaan alat ukur standar dianggap sebagai bagian penting dari strategi penurunan stunting.
Mengapa Angka Prevalensi Stunting Bergantung pada Pengukuran?
Prevalensi stunting dihitung dari perbandingan panjang atau tinggi badan anak terhadap standar pertumbuhan menurut umur dan jenis kelamin. Artinya, kesalahan beberapa sentimeter saja bisa membuat anak normal tercatat stunting, atau sebaliknya anak stunting luput dari pemantauan.
Beberapa sumber kesalahan yang sering terjadi di lapangan:
- Bayi di bawah dua tahun diukur berdiri, padahal seharusnya diukur berbaring dengan length board.
- Alat ukur dari bahan lentur seperti meteran kain yang memuai atau melengkung.
- Timbangan yang tidak dikalibrasi atau tidak dinolkan sebelum digunakan.
- Posisi kepala dan kaki anak tidak tepat saat pengukuran.
- Kesalahan pencatatan umur dalam bulan.
Kesalahan semacam ini tidak hanya memengaruhi data individu, tetapi juga angka prevalensi stunting di tingkat desa, kabupaten, hingga nasional. Data yang tidak akurat membuat intervensi salah sasaran.
Peran Posyandu dalam Deteksi Dini
Posyandu adalah garda terdepan pemantauan pertumbuhan. Setiap bulan, kader menimbang dan mengukur balita, mencatat hasilnya di buku KIA, dan merujuk anak yang pertumbuhannya tidak sesuai. Agar proses ini berjalan baik, posyandu memerlukan tiga hal:
- Alat ukur standar, yaitu timbangan bayi, timbangan dewasa dan anak, length board, alat ukur tinggi badan, dan pita LiLA.
- Kader terlatih yang memahami cara mengukur dengan benar dan cara membaca grafik pertumbuhan.
- Pencatatan yang konsisten sehingga tren pertumbuhan anak bisa dipantau dari bulan ke bulan.
Ketika ketiga hal ini terpenuhi, anak yang mulai melambat pertumbuhannya bisa segera mendapatkan intervensi gizi sebelum masuk kategori stunting.
Antropometri Kit sebagai Investasi Pencegahan
Antropometri kit adalah satu paket alat ukur yang dirancang untuk kebutuhan posyandu dan puskesmas. Paket yang baik terbuat dari bahan kokoh, mudah dibawa, mudah dibersihkan, dan memiliki skala yang jelas dibaca. PT Muara Sakti Utama telah dipercaya sebagai penyedia antropometri kit bagi posyandu, seperti diceritakan dalam artikel penunjukan MSU oleh Kemenkes sebagai penyedia antropometri kit.
Produk unggulan untuk kebutuhan ini adalah MSU Med Antropometri Kit Konsolidasi dengan nilai TKDN tinggi. Pilihan lain dapat dilihat di kategori MSU Baby, termasuk timbangan digital, length board, dan pita LiLA. Informasi tambahan tentang deteksi dini tersedia di artikel deteksi stunting sejak dini dengan antropometri kit.
Dari Data ke Aksi
Menurunkan prevalensi stunting membutuhkan kerja lintas sektor: gizi ibu hamil, ASI eksklusif, MPASI bergizi, air bersih, sanitasi, dan imunisasi lengkap. Namun semua intervensi itu dimulai dari satu langkah sederhana: mengetahui anak mana yang membutuhkan bantuan. Pengukuran rutin dan akurat di posyandu adalah langkah tersebut.
Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Data pertumbuhan yang akurat dari posyandu dapat membantu memastikan intervensi gizi tepat sasaran dan hasilnya bisa dievaluasi.
FAQ Prevalensi Stunting
Berapa prevalensi stunting Indonesia saat ini?
Menurut SSGI 2024, prevalensi stunting nasional sebesar 19,8%. Angka ini turun dari 21,5% pada tahun sebelumnya.
Berapa target penurunan stunting pemerintah?
Targetnya 18,8% pada 2025 dan 14,2% pada 2029, dengan visi jangka panjang 5% pada 2045.
Alat apa saja yang dibutuhkan posyandu untuk mengukur pertumbuhan?
Minimal timbangan bayi, timbangan anak atau dewasa, length board untuk bayi di bawah dua tahun, alat ukur tinggi badan, dan pita LiLA. Semua alat ini tersedia dalam satu paket antropometri kit.
Ingin melengkapi posyandu atau puskesmas di wilayah Anda dengan antropometri kit produksi dalam negeri? Hubungi tim PT Muara Sakti Utama untuk informasi produk dan penawaran.










One Response